Karena begitulah laki-laki Muslim,
yang diminumnya secangkir kopi bersama teman,
namun yang dipikirkannya adalah amanah kehidupan seisi bumi.
Minggu, 14 Desember 2025
Selasa, 09 Desember 2025
Guru yang Pura-Pura Bodoh "Senjata Lama yang Masih Dipakai di Ruang Guru”
Di balik pintu ruang guru yang setiap pagi berderit dibuka, tersimpan sebuah kenyataan yang jarang diucapkan namun terasa oleh hampir semua yang bekerja di dalamnya. Sebuah strategi lama - nyaris seperti warisan tak tertulis - yang terus dipakai tanpa pernah benar-benar dibahas: guru yang pura-pura bodoh.
Fenomena ini bukan soal kurangnya kecerdasan atau ketidakmampuan. Justru sebaliknya. Dalam dinamika organisasi sekolah, ketika beban kerja tidak dibagi dengan seimbang, muncul kecenderungan yang semakin jelas: guru yang terlihat paling cerdas, paling siap, dan paling sigap sering kali menjadi sasaran pertama penugasan tambahan.
Setiap kali ada laporan mendesak, kegiatan mendadak, lomba yang butuh pembina baru, atau program yang “harus segera berjalan”, satu pola yang sama terus muncul, mereka yang aktif dan terlihat mampu akan dipanggil lebih dulu. Tidak ada perjanjian tertulis, tidak ada aturan resmi, tetapi kebiasaan itu mengakar begitu kuat hingga menjadi budaya.
Ironisnya, gaji yang diterima tetap sama. Apresiasi tidak selalu hadir. Kelelahan justru sering kali memulai babak baru, sementara rekan lain berjalan lebih ringan tanpa tekanan yang sama.
Dari sinilah senjata lama itu muncul - sebuah pilihan sunyi untuk bertahan. Pura-pura tidak tahu. Pura-pura tidak begitu mahir. Pura-pura biasa saja. Bukan untuk menghindar dari tanggung jawab, melainkan untuk menghindari ketimpangan yang terus berulang. Sebuah mekanisme perlindungan diri di tengah sistem yang belum mendukung pemerataan beban kerja.
Ruang guru yang tampak tenang itu menampung banyak cerita terselubung. Ada kecemasan akan tugas yang selalu bertambah, ada kelelahan yang tidak bisa diungkapkan dalam rapat, ada harapan kecil agar pembagian pekerjaan suatu hari menjadi lebih adil.
Selama ketimpangan itu tetap terjadi, selama beban tidak dibagi dengan bijak, strategi lama itu akan tetap hidup. Diam. Tak terlihat. Namun selalu hadir - di antara meja guru, tumpukan berkas, dan senyum yang tampak biasa-biasa saja.
Senin, 24 November 2025
Menghargai Peran Guru di Tengah Tuntutan yang Terus Bertambah
Profesi guru selalu identik dengan pengabdian. Di tangan merekalah karakter dibentuk, kecerdasan ditumbuhkan, dan masa depan generasi bangsa diarahkan. Namun di balik dedikasi itu, terdapat realitas yang kerap luput dari perhatian: beban kerja yang semakin kompleks, tuntutan kompetensi yang terus meningkat, dan apresiasi yang sering kali belum sepadan.
Dalam keseharian, guru tidak hanya mengajar. Mereka dituntut menjadi pembimbing, motivator, administrator, hingga problem solver bagi berbagai persoalan yang muncul di lingkungan sekolah. Bahkan di luar jam kerja, termasuk akhir pekan atau hari libur, banyak tugas yang tetap harus diselesaikan. Aturan menetapkan kewajiban mereka dengan cukup rinci, namun regulasi yang mengatur penghargaan dan perlindungan finansial belum selalu berjalan seiring.
Istilah “pahlawan tanpa tanda jasa” sering diucapkan sebagai bentuk penghormatan. Namun tak jarang, ungkapan itu justru menjadi alasan tidak langsung untuk menunda peningkatan kesejahteraan atau perlindungan yang lebih layak. Padahal, guru adalah manusia yang memerlukan ruang untuk kembali beristirahat, dihargai, dan diberi kepastian dalam menjalankan profesi.
Banyak guru sebisa mungkin tetap menjalankan tugas dengan hati, meski fasilitas terbatas dan kebijakan belum sepenuhnya berpihak. Kepemimpinan di tingkat sekolah dan instansi pendidikan memegang peran penting agar tidak ada pihak yang merasa terbebani atau bahkan terabaikan. Guru membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memberi instruksi, tetapi juga mendengarkan, memahami, dan memperjuangkan hak mereka.
Menguatkan profesi guru bukan hanya tentang kesejahteraan, tetapi juga tentang membangun ekosistem pendidikan yang manusiawi. Apresiasi yang layak, dukungan moral, serta perlindungan hukum yang jelas akan membuat guru lebih tenang dalam menciptakan pembelajaran berkualitas.
Sudah saatnya kita tidak sekadar menempatkan guru sebagai simbol pengabdian, tetapi sebagai profesional yang patut dihormati dan didukung penuh. Karena tanpa mereka, perjalanan pendidikan bangsa tidak akan mungkin mencapai tujuannya.
Jumat, 07 November 2025
Penyerahan Sertifikat Halal Self Declare oleh Pendamping Proses Produk Halal (PPH) Halal Center Cendekia Muslim Cabang Kota Malang
Malang, 7 November 2025 - Sebagai bentuk komitmen dalam mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menuju produk yang aman, berkualitas, dan sesuai syariat, Halal Center Cendekia Muslim Cabang Kota Malang melaksanakan kegiatan Penyerahan Sertifikat Halal Self Declare kepada sejumlah pelaku UMKM binaan.
Penyerahan dilakukan oleh Bapak Fadhlur Rahman, selaku Pendamping Proses Produk Halal (PPH) dari Halal Center
Cendekia Muslim Cabang Kota Malang. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari
pendampingan proses sertifikasi halal melalui skema Self Declare yang difasilitasi oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)
Kementerian Agama RI.
Pentingnya sertifikasi halal bagi UMKM tidak hanya sebagai bentuk
kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga sebagai strategi peningkatan
kepercayaan konsumen.
“Melalui sertifikasi halal, pelaku usaha dapat meningkatkan daya
saing dan nilai tambah produknya. Pendampingan ini diharapkan mampu membantu
UMKM naik kelas dan memperluas jangkauan pasar, baik di tingkat nasional maupun
global,” ujar beliau.
Dengan adanya sertifikasi halal ini, diharapkan para pelaku UMKM
semakin termotivasi untuk menghasilkan produk yang berkualitas, sehat, dan
berkah bagi masyarakat.
Rabu, 22 Oktober 2025
PESONA TANAMAN TABEBUYA
Sabtu, 24 Mei 2025
SENTUHAN HATI DI LAYAR SENTUH
Di era digital yang serba cepat ini, layar sentuh telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, tak terkecuali bagi anak-anak. Mereka lahir dan tumbuh besar di tengah gempuran informasi, hiburan, dan interaksi virtual. Sebagai orang tua, kita dihadapkan pada tantangan unik: bagaimana menavigasi dunia digital ini sambil tetap menanamkan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan koneksi emosional yang mendalam pada anak-anak kita? Judul "Sentuhan Hati di Layar Sentuh" bukan sekadar metafora, melainkan sebuah pengingat bahwa di balik dinginnya teknologi, sentuhan kasih sayang orang tua tetaplah esensi utama dalam mendidik generasi digital ini.
Jangan salah paham, teknologi bukanlah musuh. Ia menawarkan segudang manfaat, mulai dari akses tak terbatas ke informasi dan pembelajaran, hingga kemudahan berkomunikasi dan berkreasi. Namun, tanpa bimbingan yang tepat, paparan berlebihan pada dunia digital juga menyimpan potensi risiko, seperti kecanduan, kurangnya interaksi sosial nyata, hingga terpaparnya konten yang tidak sesuai. Di sinilah peran krusial orang tua untuk menghadirkan "sentuhan hati" dalam interaksi anak dengan layar sentuh.Salah satu langkah awal adalah dengan menjadi
teladan yang baik. Anak-anak adalah peniru ulung. Jika orang tua terlalu
sering terpaku pada layar ponsel atau gawai, sulit rasanya mengharapkan anak
untuk memiliki kebiasaan digital yang sehat. Cobalah untuk menetapkan
"zona bebas gawai" di rumah, terutama saat makan bersama atau
berinteraksi sebagai keluarga. Tunjukkan pada anak bahwa ada saat-saat di mana
interaksi tatap muka dan perhatian penuh jauh lebih berharga daripada
notifikasi yang berkedip.
Komunikasi terbuka adalah kunci lainnya. Alih-alih
melarang secara membabi buta, ajaklah anak berdiskusi tentang apa yang mereka
lakukan di dunia digital. Tanyakan tentang game yang mereka mainkan, video yang
mereka tonton, atau teman-teman online mereka. Dengan menunjukkan minat dan rasa
ingin tahu, Anda membuka pintu bagi anak untuk merasa nyaman berbagi pengalaman
digital mereka, termasuk potensi masalah yang mungkin mereka hadapi seperti cyberbullying
atau konten yang tidak pantas.
Menemani dan terlibat dalam aktivitas digital anak juga
merupakan wujud kasih sayang. Cobalah sesekali bermain game bersama mereka,
menonton video edukatif, atau bahkan belajar coding bersama. Keterlibatan aktif
orang tua tidak hanya mempererat ikatan emosional, tetapi juga memberikan
kesempatan untuk memberikan panduan dan nilai-nilai positif secara langsung.
Anda bisa menyelipkan diskusi tentang pentingnya menghormati orang lain secara
online, berhati-hati dalam berbagi informasi pribadi, dan membedakan antara
fakta dan opini.
Menetapkan batasan yang jelas dan konsisten adalah
bentuk kasih sayang yang terukur. Anak-anak membutuhkan struktur dan panduan,
termasuk dalam penggunaan teknologi. Tentukan waktu yang wajar untuk bermain
gawai, area di mana gawai tidak diperbolehkan (misalnya kamar tidur menjelang
tidur), dan konsekuensi yang jelas jika aturan dilanggar. Batasan ini bukan
untuk mengekang, tetapi untuk melindungi mereka dari dampak negatif penggunaan
teknologi berlebihan dan membantu mereka mengembangkan kebiasaan digital yang
sehat.
Mendorong aktivitas di dunia nyata adalah cara
penting untuk menyeimbangkan kehidupan digital anak. Ajak mereka bermain di
luar rumah, berolahraga, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, atau sekadar
menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga. Pengalaman nyata dan interaksi
sosial langsung sangat penting untuk perkembangan fisik, emosional, dan sosial
mereka. Tunjukkan bahwa dunia di luar layar sentuh juga menawarkan keseruan dan
kebahagiaan yang tak kalah menarik.
Lebih dari sekadar aturan dan batasan, menunjukkan
empati dan pengertian terhadap dunia digital anak juga penting. Akui bahwa
bagi mereka, dunia digital adalah bagian dari realitas mereka. Cobalah untuk
memahami mengapa mereka begitu tertarik dengan game tertentu atau platform media
sosial. Dengan menunjukkan empati, Anda membangun jembatan komunikasi yang
lebih kuat dan membuat anak merasa didengarkan dan dihargai.





