Karena begitulah laki-laki Muslim,
yang diminumnya secangkir kopi bersama teman,
namun yang dipikirkannya adalah amanah kehidupan seisi bumi.
Minggu, 14 Desember 2025
Selasa, 09 Desember 2025
Guru yang Pura-Pura Bodoh "Senjata Lama yang Masih Dipakai di Ruang Guru”
Di balik pintu ruang guru yang setiap pagi berderit dibuka, tersimpan sebuah kenyataan yang jarang diucapkan namun terasa oleh hampir semua yang bekerja di dalamnya. Sebuah strategi lama - nyaris seperti warisan tak tertulis - yang terus dipakai tanpa pernah benar-benar dibahas: guru yang pura-pura bodoh.
Fenomena ini bukan soal kurangnya kecerdasan atau ketidakmampuan. Justru sebaliknya. Dalam dinamika organisasi sekolah, ketika beban kerja tidak dibagi dengan seimbang, muncul kecenderungan yang semakin jelas: guru yang terlihat paling cerdas, paling siap, dan paling sigap sering kali menjadi sasaran pertama penugasan tambahan.
Setiap kali ada laporan mendesak, kegiatan mendadak, lomba yang butuh pembina baru, atau program yang “harus segera berjalan”, satu pola yang sama terus muncul, mereka yang aktif dan terlihat mampu akan dipanggil lebih dulu. Tidak ada perjanjian tertulis, tidak ada aturan resmi, tetapi kebiasaan itu mengakar begitu kuat hingga menjadi budaya.
Ironisnya, gaji yang diterima tetap sama. Apresiasi tidak selalu hadir. Kelelahan justru sering kali memulai babak baru, sementara rekan lain berjalan lebih ringan tanpa tekanan yang sama.
Dari sinilah senjata lama itu muncul - sebuah pilihan sunyi untuk bertahan. Pura-pura tidak tahu. Pura-pura tidak begitu mahir. Pura-pura biasa saja. Bukan untuk menghindar dari tanggung jawab, melainkan untuk menghindari ketimpangan yang terus berulang. Sebuah mekanisme perlindungan diri di tengah sistem yang belum mendukung pemerataan beban kerja.
Ruang guru yang tampak tenang itu menampung banyak cerita terselubung. Ada kecemasan akan tugas yang selalu bertambah, ada kelelahan yang tidak bisa diungkapkan dalam rapat, ada harapan kecil agar pembagian pekerjaan suatu hari menjadi lebih adil.
Selama ketimpangan itu tetap terjadi, selama beban tidak dibagi dengan bijak, strategi lama itu akan tetap hidup. Diam. Tak terlihat. Namun selalu hadir - di antara meja guru, tumpukan berkas, dan senyum yang tampak biasa-biasa saja.
Senin, 24 November 2025
Menghargai Peran Guru di Tengah Tuntutan yang Terus Bertambah
Profesi guru selalu identik dengan pengabdian. Di tangan merekalah karakter dibentuk, kecerdasan ditumbuhkan, dan masa depan generasi bangsa diarahkan. Namun di balik dedikasi itu, terdapat realitas yang kerap luput dari perhatian: beban kerja yang semakin kompleks, tuntutan kompetensi yang terus meningkat, dan apresiasi yang sering kali belum sepadan.
Dalam keseharian, guru tidak hanya mengajar. Mereka dituntut menjadi pembimbing, motivator, administrator, hingga problem solver bagi berbagai persoalan yang muncul di lingkungan sekolah. Bahkan di luar jam kerja, termasuk akhir pekan atau hari libur, banyak tugas yang tetap harus diselesaikan. Aturan menetapkan kewajiban mereka dengan cukup rinci, namun regulasi yang mengatur penghargaan dan perlindungan finansial belum selalu berjalan seiring.
Istilah “pahlawan tanpa tanda jasa” sering diucapkan sebagai bentuk penghormatan. Namun tak jarang, ungkapan itu justru menjadi alasan tidak langsung untuk menunda peningkatan kesejahteraan atau perlindungan yang lebih layak. Padahal, guru adalah manusia yang memerlukan ruang untuk kembali beristirahat, dihargai, dan diberi kepastian dalam menjalankan profesi.
Banyak guru sebisa mungkin tetap menjalankan tugas dengan hati, meski fasilitas terbatas dan kebijakan belum sepenuhnya berpihak. Kepemimpinan di tingkat sekolah dan instansi pendidikan memegang peran penting agar tidak ada pihak yang merasa terbebani atau bahkan terabaikan. Guru membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memberi instruksi, tetapi juga mendengarkan, memahami, dan memperjuangkan hak mereka.
Menguatkan profesi guru bukan hanya tentang kesejahteraan, tetapi juga tentang membangun ekosistem pendidikan yang manusiawi. Apresiasi yang layak, dukungan moral, serta perlindungan hukum yang jelas akan membuat guru lebih tenang dalam menciptakan pembelajaran berkualitas.
Sudah saatnya kita tidak sekadar menempatkan guru sebagai simbol pengabdian, tetapi sebagai profesional yang patut dihormati dan didukung penuh. Karena tanpa mereka, perjalanan pendidikan bangsa tidak akan mungkin mencapai tujuannya.
Jumat, 07 November 2025
Penyerahan Sertifikat Halal Self Declare oleh Pendamping Proses Produk Halal (PPH) Halal Center Cendekia Muslim Cabang Kota Malang
Malang, 7 November 2025 - Sebagai bentuk komitmen dalam mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menuju produk yang aman, berkualitas, dan sesuai syariat, Halal Center Cendekia Muslim Cabang Kota Malang melaksanakan kegiatan Penyerahan Sertifikat Halal Self Declare kepada sejumlah pelaku UMKM binaan.
Penyerahan dilakukan oleh Bapak Fadhlur Rahman, selaku Pendamping Proses Produk Halal (PPH) dari Halal Center
Cendekia Muslim Cabang Kota Malang. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari
pendampingan proses sertifikasi halal melalui skema Self Declare yang difasilitasi oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)
Kementerian Agama RI.
Pentingnya sertifikasi halal bagi UMKM tidak hanya sebagai bentuk
kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga sebagai strategi peningkatan
kepercayaan konsumen.
“Melalui sertifikasi halal, pelaku usaha dapat meningkatkan daya
saing dan nilai tambah produknya. Pendampingan ini diharapkan mampu membantu
UMKM naik kelas dan memperluas jangkauan pasar, baik di tingkat nasional maupun
global,” ujar beliau.
Dengan adanya sertifikasi halal ini, diharapkan para pelaku UMKM
semakin termotivasi untuk menghasilkan produk yang berkualitas, sehat, dan
berkah bagi masyarakat.
Rabu, 22 Oktober 2025
PESONA TANAMAN TABEBUYA
Sabtu, 24 Mei 2025
SENTUHAN HATI DI LAYAR SENTUH
Di era digital yang serba cepat ini, layar sentuh telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, tak terkecuali bagi anak-anak. Mereka lahir dan tumbuh besar di tengah gempuran informasi, hiburan, dan interaksi virtual. Sebagai orang tua, kita dihadapkan pada tantangan unik: bagaimana menavigasi dunia digital ini sambil tetap menanamkan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan koneksi emosional yang mendalam pada anak-anak kita? Judul "Sentuhan Hati di Layar Sentuh" bukan sekadar metafora, melainkan sebuah pengingat bahwa di balik dinginnya teknologi, sentuhan kasih sayang orang tua tetaplah esensi utama dalam mendidik generasi digital ini.
Jangan salah paham, teknologi bukanlah musuh. Ia menawarkan segudang manfaat, mulai dari akses tak terbatas ke informasi dan pembelajaran, hingga kemudahan berkomunikasi dan berkreasi. Namun, tanpa bimbingan yang tepat, paparan berlebihan pada dunia digital juga menyimpan potensi risiko, seperti kecanduan, kurangnya interaksi sosial nyata, hingga terpaparnya konten yang tidak sesuai. Di sinilah peran krusial orang tua untuk menghadirkan "sentuhan hati" dalam interaksi anak dengan layar sentuh.Salah satu langkah awal adalah dengan menjadi
teladan yang baik. Anak-anak adalah peniru ulung. Jika orang tua terlalu
sering terpaku pada layar ponsel atau gawai, sulit rasanya mengharapkan anak
untuk memiliki kebiasaan digital yang sehat. Cobalah untuk menetapkan
"zona bebas gawai" di rumah, terutama saat makan bersama atau
berinteraksi sebagai keluarga. Tunjukkan pada anak bahwa ada saat-saat di mana
interaksi tatap muka dan perhatian penuh jauh lebih berharga daripada
notifikasi yang berkedip.
Komunikasi terbuka adalah kunci lainnya. Alih-alih
melarang secara membabi buta, ajaklah anak berdiskusi tentang apa yang mereka
lakukan di dunia digital. Tanyakan tentang game yang mereka mainkan, video yang
mereka tonton, atau teman-teman online mereka. Dengan menunjukkan minat dan rasa
ingin tahu, Anda membuka pintu bagi anak untuk merasa nyaman berbagi pengalaman
digital mereka, termasuk potensi masalah yang mungkin mereka hadapi seperti cyberbullying
atau konten yang tidak pantas.
Menemani dan terlibat dalam aktivitas digital anak juga
merupakan wujud kasih sayang. Cobalah sesekali bermain game bersama mereka,
menonton video edukatif, atau bahkan belajar coding bersama. Keterlibatan aktif
orang tua tidak hanya mempererat ikatan emosional, tetapi juga memberikan
kesempatan untuk memberikan panduan dan nilai-nilai positif secara langsung.
Anda bisa menyelipkan diskusi tentang pentingnya menghormati orang lain secara
online, berhati-hati dalam berbagi informasi pribadi, dan membedakan antara
fakta dan opini.
Menetapkan batasan yang jelas dan konsisten adalah
bentuk kasih sayang yang terukur. Anak-anak membutuhkan struktur dan panduan,
termasuk dalam penggunaan teknologi. Tentukan waktu yang wajar untuk bermain
gawai, area di mana gawai tidak diperbolehkan (misalnya kamar tidur menjelang
tidur), dan konsekuensi yang jelas jika aturan dilanggar. Batasan ini bukan
untuk mengekang, tetapi untuk melindungi mereka dari dampak negatif penggunaan
teknologi berlebihan dan membantu mereka mengembangkan kebiasaan digital yang
sehat.
Mendorong aktivitas di dunia nyata adalah cara
penting untuk menyeimbangkan kehidupan digital anak. Ajak mereka bermain di
luar rumah, berolahraga, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, atau sekadar
menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga. Pengalaman nyata dan interaksi
sosial langsung sangat penting untuk perkembangan fisik, emosional, dan sosial
mereka. Tunjukkan bahwa dunia di luar layar sentuh juga menawarkan keseruan dan
kebahagiaan yang tak kalah menarik.
Lebih dari sekadar aturan dan batasan, menunjukkan
empati dan pengertian terhadap dunia digital anak juga penting. Akui bahwa
bagi mereka, dunia digital adalah bagian dari realitas mereka. Cobalah untuk
memahami mengapa mereka begitu tertarik dengan game tertentu atau platform media
sosial. Dengan menunjukkan empati, Anda membangun jembatan komunikasi yang
lebih kuat dan membuat anak merasa didengarkan dan dihargai.
Sabtu, 12 April 2025
GENERASI EMAS ATAU CEMAS
Gaung "Generasi Emas 2045" terus bergema, membawa serta mimpi akan Indonesia yang maju, sejahtera, dan berdaya saing global. Bonus demografi yang diprediksi mencapai puncaknya pada tahun tersebut menghadirkan harapan besar akan hadirnya angkatan muda produktif yang akan menjadi motor penggerak kemajuan bangsa. Namun, di balik optimisme itu, tersembunyi pula kecemasan mendalam. Akankah generasi muda ini benar-benar menjadi aset emas, atau justru terjerat dalam pusaran tantangan zaman dan menjelma menjadi "generasi cemas"?
Harapan akan Generasi Emas bertumpu pada potensi besar yang dimiliki oleh kaum muda saat ini. Mereka tumbuh di era digital, memiliki akses tak terbatas pada informasi dan teknologi, serta terpapar pada beragam ide dan budaya. Semangat inovasi, kreativitas, dan adaptabilitas menjadi modal berharga untuk menghadapi kompleksitas dunia modern. Pendidikan yang semakin merata, meskipun belum sempurna, juga memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya.
Namun, bayang-bayang kecemasan tak bisa diabaikan. Globalisasi yang membuka peluang juga menghadirkan persaingan yang semakin ketat. Lapangan pekerjaan yang tersedia belum tentu sebanding dengan jumlah lulusan, memicu kekhawatiran akan pengangguran terselubung dan kualitas pekerjaan yang tidak sesuai harapan. Selain itu, isu-isu krusial seperti perubahan iklim, ketidakstabilan ekonomi global, dan potensi disrupsi teknologi menjadi tantangan nyata yang dapat menghambat kemajuan generasi muda.
Kesehatan mental juga menjadi perhatian serius. Tekanan untuk sukses, persaingan di media sosial, dan ketidakpastian masa depan dapat memicu stres, kecemasan, dan depresi di kalangan generasi muda. Jika isu ini tidak ditangani dengan baik, potensi emas yang dimiliki bisa tergerus oleh masalah psikologis yang menghambat produktivitas dan kreativitas.
Lebih jauh lagi, tantangan karakter dan nilai juga menjadi sorotan. Era digital dengan segala kemudahannya juga membawa risiko terhadap degradasi moral dan etika. Paparan informasi yang tidak tersaring, budaya instan, dan individualisme yang berlebihan dapat mengikis nilai-nilai luhur bangsa seperti gotong royong, toleransi, dan nasionalisme.
Lantas, bagaimana agar harapan akan Generasi Emas tidak pupus dan berubah menjadi kenyataan Generasi Cemas? Jawabannya terletak pada sinergi dan kolaborasi dari berbagai pihak. Pemerintah memiliki peran sentral dalam menciptakan kebijakan yang mendukung pengembangan potensi generasi muda, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri, menciptakan lapangan kerja yang layak, hingga memberikan dukungan psikologis dan sosial.
Sektor swasta juga memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan peluang kerja yang berkualitas dan berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia muda. Pendidikan di keluarga dan masyarakat juga tidak kalah penting dalam menanamkan nilai-nilai karakter yang kuat, menumbuhkan semangat kewirausahaan, dan meningkatkan kesadaran akan isu-isu global.
Generasi muda itu sendiri juga harus proaktif dalam mengembangkan diri, meningkatkan keterampilan, berpikir kritis, dan memiliki daya juang yang tinggi. Mereka harus mampu memanfaatkan peluang yang ada, beradaptasi dengan perubahan, dan tidak mudah menyerah pada tantangan. Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan kemampuan untuk mengelola stres juga menjadi kunci penting.
Masa depan Indonesia ada di tangan generasi mudanya. Pilihan ada di persimpangan jalan: menjadi Generasi Emas yang mampu membawa bangsa menuju kemajuan gemilang, atau terperangkap dalam kecemasan dan ketidakberdayaan. Dengan kerja keras, kolaborasi, dan komitmen yang kuat dari semua pihak, mimpi akan Generasi Emas 2045 bukanlah sekadar utopia, melainkan sebuah keniscayaan yang dapat diwujudkan. Namun, kelalaian dan ketidakpedulian hanya akan menjerumuskan kita pada skenario yang paling dihindari: lahirnya sebuah Generasi Cemas yang kehilangan arah dan potensi. Mari bergandengan tangan, mewujudkan harapan, dan menepis segala kecemasan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
#generasiemas #generasi #cemas #anakmudasekarang
Senin, 31 Maret 2025
Shalat Idul Fitri 1446 H di RTH Maron Genteng Sebagai Momentum Syukur dan Peningkatan Taqwa
Genteng, 1 Syawal 1446 H - Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng sukses menyelenggarakan Shalat Idul Fitri 1446 H di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Maron, Genteng. Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan jamaah yang datang dari berbagai daerah sekitar, dengan penuh khidmat dan kebersamaan dalam merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.
Shalat Idul Fitri kali ini dipimpin oleh imam sekaligus khatib dari Muhammadiyah, yang dalam khutbahnya mengingatkan pentingnya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT serta menjaga persaudaraan dan solidaritas antar sesama. Dalam khutbahnya, beliau menyampaikan bahwa Idul Fitri bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat nilai-nilai keislaman dan merefleksikan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Suasana kebersamaan tampak kental dalam pelaksanaan shalat ini. Setelah shalat dan khutbah selesai, jamaah saling bersalaman dan bermaafan sebagai simbol kembali ke fitrah. Acara ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi masyarakat sekitar yang datang bersama keluarga dan kerabat.
Pelaksanaan Shalat Idul Fitri di RTH Maron yang berlangsung, sebagai bentuk syiar Islam dan peningkatan kebersamaan umat. Dengan semangat Idul Fitri, semoga seluruh jamaah dapat terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta menjadikan momen ini sebagai langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik di bawah ridha Allah SWT.
MALAM TAKBIRAN & RIUH SWALAYAN
![]() |
| Ahmad Fajarisma Budi Adam Guru SMP N 1 Banjar Seririt Bali |
Minggu, 30 Maret 2025
Janji Pasca Ramadhan
Rasanya baru kemarin kita kehadiran tamu mulia ini, sebentar akan meninggalkan kita semua, Apakah tahun depan akan bertemu Kembali, kita hanya berharap dan Allah SWT lah yang berkehendak atas semuanya. Ramadhan telah berlalu, meninggalkan kita dengan kenangan indah dan semangat spiritual yang membara. Selama sebulan penuh, kita telah berjuang melawan hawa nafsu, meningkatkan ibadah, dan mempererat tali silaturahmi. Kini, setelah Ramadhan pergi, muncul pertanyaan penting: Apakah semangat dan kebaikan yang kita tanam selama bulan suci akan terus bersemi, ataukah akan layu seiring berjalannya waktu ?
Inilah saatnya kita membuktikan
komitmen kita. Janji pasca Ramadhan adalah janji untuk menjaga dan meningkatkan
kualitas diri yang telah kita capai selama bulan suci. Ini bukan tugas yang
mudah, tetapi dengan tekad dan upaya yang sungguh-sungguh, kita bisa
mewujudkannya.
Menjaga Konsistensi Ibadah
Salah satu janji terpenting pasca
Ramadhan adalah menjaga konsistensi ibadah. Selama Ramadhan, kita terbiasa
dengan shalat tarawih, tadarus Al-Qur'an, dan berbagai amalan sunnah lainnya.
Jangan biarkan kebiasaan baik ini hilang begitu saja. Tetaplah shalat tepat
waktu, luangkan waktu untuk membaca Al-Qur'an setiap hari, dan perbanyaklah
dzikir serta doa.
Rasulullah SAW bersabda,
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin, meskipun
sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengingatkan kita bahwa kualitas
ibadah lebih penting daripada kuantitas. Ibadah yang dilakukan secara rutin,
meskipun sedikit, lebih dicintai oleh Allah daripada ibadah yang banyak tetapi
hanya dilakukan sesekali.
Istiqomah adalah jalan terbaik
agar kita senantiasa menjalankan janji usai Ramadhan berlalu, dengan tetap
rajin sholat tepat waktu, tadarus Al-Qur’an, bersedekah, menjaga silaturrahmi,
dan meningkatkan amalan sunnah lainnya.
Meningkatkan Kualitas Diri
Ramadhan adalah bulan pelatihan
diri. Selama sebulan penuh, kita belajar untuk menahan diri dari segala bentuk
keburukan, baik perkataan maupun perbuatan. Janji pasca Ramadhan adalah janji
untuk terus meningkatkan kualitas diri, menjadi pribadi yang lebih sabar,
jujur, dan penyayang.
Salah satu cara untuk meningkatkan
kualitas diri adalah dengan terus belajar. Bacalah buku-buku agama, ikuti
kajian-kajian Islam, dan bergaul dengan orang-orang saleh. Dengan demikian,
kita akan terus mendapatkan ilmu dan motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih
baik.
Mempererat Silaturahmi
Ramadhan adalah bulan silaturahmi.
Kita terbiasa mengunjungi keluarga, teman, dan tetangga untuk mempererat tali
persaudaraan. Janji pasca Ramadhan adalah janji untuk terus menjaga dan
mempererat silaturahmi. Jangan biarkan kesibukan dunia membuat kita melupakan
orang-orang terdekat.
Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa yang ingin rezekinya diluaskan dan umurnya dipanjangkan, maka
hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis
ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga silaturahmi dalam Islam.
Menjadi Pribadi yang Bermanfaat
Ramadhan adalah bulan kepedulian
sosial. Kita terbiasa bersedekah, memberi makan orang miskin, dan membantu
sesama yang membutuhkan. Janji pasca Ramadhan adalah janji untuk terus menjadi
pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Jangan biarkan semangat berbagi dan
peduli luntur setelah Ramadhan berakhir.
Salah satu cara untuk menjadi
pribadi yang bermanfaat adalah dengan menjadi relawan di organisasi sosial.
Kita juga bisa membantu tetangga yang membutuhkan, atau sekadar memberikan
senyuman dan kata-kata yang baik kepada orang-orang di sekitar kita.
Menjaga Semangat Ramadhan
Janji pasca Ramadhan adalah janji
untuk menjaga semangat Ramadhan tetap menyala di hati kita. Semangat untuk
terus beribadah, berbuat baik, dan meningkatkan kualitas diri. Jangan biarkan
semangat ini padam seiring berjalannya waktu.
Salah satu cara untuk menjaga
semangat Ramadhan adalah dengan mengingat kembali kenangan indah selama bulan
suci. Ingatlah saat-saat ketika kita merasa dekat dengan Allah, saat-saat
ketika kita merasa damai dan bahagia. Kenangan ini akan menjadi motivasi bagi
kita untuk terus berbuat baik.
Janji pasca Ramadhan adalah janji
kepada diri sendiri, kepada keluarga, kepada masyarakat, dan yang paling
penting, kepada Allah SWT. Mari kita buktikan bahwa kita mampu menjaga dan
meningkatkan kualitas diri yang telah kita capai selama Ramadhan. Semoga Allah
SWT memberikan kita kekuatan dan keistiqomahan untuk mewujudkan janji-janji
kita. Amin.
Minggu, 23 Maret 2025
THR (Tunjangan Hari Raya atau Transport Hari Raya)
Kewajiban
Pembayaran THR Berdasarkan regulasi tersebut, THR
wajib diberikan kepada pekerja yang telah bekerja minimal satu bulan secara
terus-menerus. Adapun besaran THR yang harus diberikan adalah:
- Pekerja dengan masa kerja 12
bulan atau lebih berhak mendapatkan THR sebesar satu bulan gaji.
- Pekerja dengan masa kerja
kurang dari 12 bulan mendapatkan THR secara proporsional sesuai masa
kerja.
Pemberian
THR ini berlaku bagi seluruh pekerja, termasuk pegawai tetap, kontrak, maupun
honorer, selama mereka memenuhi kriteria yang ditentukan.
THR
untuk Guru/Dosen dan Karyawan Lembaga Pendidikan Lembaga pendidikan, baik swasta maupun negeri, wajib
memberikan THR kepada dosen dan tenaga kependidikan yang berada di bawah
naungan institusi mereka. Hal ini mencakup:
- Dosen tetap dan tidak tetap di
perguruan tinggi.
- Guru dan tenaga administrasi di
sekolah-sekolah.
- Tenaga kependidikan lainnya
yang bekerja di lingkungan pendidikan.
Untuk
lembaga pendidikan yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU) atau yayasan,
pembayaran THR disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku di masing-masing institusi,
tetapi tetap harus mengikuti peraturan pemerintah mengenai pemberian THR.
Jika
THR Tidak Dibayarkan Sesuai Ketentuan
Jika pembayaran yang diberikan kepada pekerja tidak sesuai dengan rumus
perhitungan THR berdasarkan masa kerja dan gaji bulanan, maka kemungkinan besar
itu bukan Tunjangan Hari Raya (THR) sebagaimana yang diatur dalam
peraturan ketenagakerjaan. Bisa jadi, itu merupakan bentuk bantuan lain seperti
Transport Hari Raya atau insentif tambahan dari lembaga, bukan kewajiban
hukum yang harus dibayarkan sebagai THR.
Perbedaan THR dan Transport Hari Raya
- Tunjangan Hari Raya (THR)
·
Wajib dibayarkan oleh
perusahaan/lembaga kepada pekerja berdasarkan Permenaker No. 6 Tahun 2016.
·
Besarnya minimal satu bulan gaji
bagi pekerja dengan masa kerja 12 bulan atau lebih.
·
Untuk pekerja dengan masa kerja di
bawah 12 bulan, dihitung secara proporsional sesuai masa kerja.
·
Harus dibayarkan paling lambat 7
hari sebelum hari raya keagamaan.
- Transport Hari Raya atau
Bantuan Lain
·
Tidak diatur dalam peraturan
pemerintah, sehingga bukan kewajiban perusahaan/lembaga.
·
Besaran nominalnya bisa bervariasi
dan diberikan sesuai kebijakan lembaga.
·
Bisa berupa uang transport, uang
saku tambahan, bingkisan, atau bentuk lainnya.
·
Biasanya diberikan sebagai bentuk
apresiasi tambahan kepada pekerja.
Sanksi
bagi Lembaga yang Tidak Membayar THR
Jika sebuah lembaga atau institusi pendidikan tidak membayarkan THR sesuai
ketentuan, maka dapat dikenakan sanksi administratif, mulai dari teguran
tertulis, pembatasan kegiatan usaha, hingga penghentian sementara operasional.
Sanksi ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021 tentang
Pengupahan.
Pemerintah
melalui Kementerian Ketenagakerjaan juga membuka posko pengaduan THR bagi
pekerja yang merasa haknya tidak dipenuhi. Pekerja yang tidak menerima THR atau
menerima jumlah yang tidak sesuai ketentuan dapat melaporkan melalui layanan
yang disediakan oleh pemerintah.
Sabtu, 22 Maret 2025
Malam Lailatul Qadar: Antara Harapan dan Kenyataan
![]() |
| Ahmad Fajarisma Budi Adam Guru SMP N 1 Banjar Seririt Bali |
Harapan yang Membungbung Tinggi
Setiap muslim tentu memiliki harapan yang besar untuk bertemu dengan Lailatul Qadar. Harapan ini memicu semangat untuk memperbanyak ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan, seperti shalat malam, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan berdoa. Masjid-masjid pun dipenuhi oleh jamaah yang beritikaf, menghabiskan waktu mereka dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Harapan akan Lailatul Qadar juga tercermin dalam doa-doa yang dipanjatkan. Setiap muslim memohon ampunan atas dosa-dosanya, memohon rahmat dan keberkahan, serta memohon agar segala hajatnya dikabulkan. Malam Lailatul Qadar menjadi momentum terbaik untuk bermunajat kepada Allah SWT, menyampaikan segala isi hati, dan memohon pertolongan-Nya.
Kenyataan yang Penuh Misteri
Namun, di balik harapan yang begitu besar, terdapat kenyataan bahwa Lailatul Qadar adalah misteri. Tidak ada yang tahu pasti kapan malam itu datang. Rasulullah SAW sendiri hanya memberikan petunjuk bahwa Lailatul Qadar ada di sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama di malam-malam ganjil.
Kenyataan ini mengajarkan kita untuk tidak hanya fokus pada satu malam tertentu, tetapi untuk memperbanyak ibadah di setiap malam Ramadhan. Kita tidak boleh merasa putus asa jika tidak merasakan tanda-tanda Lailatul Qadar di malam-malam ganjil. Sebab, bisa jadi Lailatul Qadar datang di malam-malam genap.
Menyeimbangkan Harapan dan Kenyataan
Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi Lailatul Qadar? Sebaiknya, kita menyeimbangkan antara harapan dan kenyataan. Kita tetap berharap bisa bertemu dengan Lailatul Qadar, tetapi kita juga menerima kenyataan bahwa malam itu adalah misteri.
Kita tidak boleh hanya fokus mencari tanda-tanda Lailatul Qadar, seperti mimpi atau kilatan cahaya. Sebab, tanda-tanda tersebut tidak bisa dijadikan patokan. Yang terpenting adalah memperbanyak ibadah dan berdoa di setiap malam Ramadhan, dengan hati yang ikhlas dan penuh harap kepada Allah SWT.
Tanda-tanda Lailatul Qadar
Meskipun tidak ada yang tahu pasti kapan Lailatul Qadar akan tiba, ada beberapa tanda yang disebutkan dalam hadis yang bisa menjadi petunjuk, yaitu Malam Lailatul Qadar digambarkan sebagai malam yang tenang, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Pada malam itu, langit terlihat cerah dan bintang-bintang bersinar terang. Udara terasa sejuk dan menyegarkan, memberikan ketenangan bagi hati. Pada pagi harinya, matahari terbit dengan tenang, tanpa sinar yang menyilaukan. Orang yang beribadah pada malam itu akan merasakan ketenangan dan ketentraman dalam hati. Malam itu akan terasa lebih terang dari malam-malam biasanya. Bila sinyal tersebut dapat kita rasakan dan rasakan, mudah-mudahan itu merupakan gejala munculnya Laitul Qadar. Namun ini hanyalah sebuah harapan manusia, yang belum pasti kita dapatkan secara nyata.
Hikmah di Balik Misteri Lailatul Qadar
Misteri Lailatul Qadar memiliki hikmah yang besar. Dengan merahasiakan waktu datangnya Lailatul Qadar, Allah SWT ingin menguji kesungguhan hamba-Nya dalam beribadah. Allah SWT ingin melihat siapa yang benar-benar ikhlas dalam beribadah, bukan hanya karena mengharapkan pahala Lailatul Qadar.
Selain itu, misteri Lailatul Qadar juga mengajarkan kita untuk selalu bersiap-siap menyambutnya. Kita tidak boleh menunda-nunda ibadah, karena kita tidak tahu kapan Lailatul Qadar akan datang.
Kesimpulan
Mencari Lailatul Qadar adalah bentuk ketaatan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Malam ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan pengampunan dosa, keberkahan, dan pahala yang berlipat ganda. Oleh karena itu, marilah kita berusaha semaksimal mungkin untuk menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan dengan ibadah dan kebaikan.
Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh dengan harapan dan kenyataan. Harapan untuk bertemu dengan malam yang penuh berkah ini harus diimbangi dengan kenyataan bahwa malam itu adalah misteri. Dengan menyeimbangkan harapan dan kenyataan, kita akan lebih fokus pada ibadah dan berdoa, serta lebih ikhlas dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Semoga Allah SWT memberikan kita kesempatan untuk bertemu dengan Lailatul Qadar, dan semoga kita semua mendapatkan rahmat, rahmat, dan keberkahan dari-Nya. Amin.
Kamis, 20 Maret 2025
Matematika Lailatul Qadar Mengukur Nilai Tak Terhingga dari Satu Malam
![]() | |
Ahmad Fajarisma Budi Adam
|
Dalam matematika, tak terhingga (∞)
adalah konsep yang menggambarkan sesuatu yang tidak memiliki batas (limit). Lailatul Qadar dapat dianalogikan dengan konsep ini,
di mana pahala dan keberkahan yang dilimpahkan Allah SWT tidak terhingga. Sehingga apa yang kita inginkan, belum tentu Allah SWT akan wujudkan,
namun tanpa kita sadari, hal yang tak disangka-sanga dari pemberian Allah malah
justru lebih besar kita terima tanpa kita ketahui sebelumnya.
Perhitungan
Pahala yang Berlipat Ganda
Jika kita mencoba menghitung pahala
yang diperoleh dari beribadah di Lailatul Qadar, hasilnya akan sangat
fantastis. Misalnya, jika satu amal baik di bulan Ramadan diberi pahala 10 kali
lipat, maka di Lailatul Qadar, pahala tersebut akan dilipatgandakan
berkali-kali lipat, bahkan mungkin tak terhingga.
Teori
Probabilitas dan Peluang Meraih Lailatul Qadar
Meskipun waktu pasti Lailatul Qadar
tidak diketahui, kita dapat menggunakan teori probabilitas untuk memperkirakan
peluang meraihnya. Jika kita beribadah dengan sungguh-sungguh di 10 malam
terakhir Ramadan, peluang kita untuk mendapatkan Lailatul Qadar akan semakin
besar.
Angka-angka dalam Al-Quran sering
kali memiliki makna simbolis. Misalnya, angka 7 sering dikaitkan dengan
kesempurnaan. Dalam konteks Lailatul Qadar, 10 malam terakhir Ramadan dan
malam-malam ganjil dapat diartikan sebagai simbol kesungguhan dan upaya
maksimal dalam mencari keberkahan.
Lailatul
Qadar sebagai Fungsi Eksponensial
Dalam matematika, fungsi
eksponensial menggambarkan pertumbuhan yang sangat cepat. Lailatul Qadar dapat
dianggap sebagai fungsi eksponensial, di mana setiap amal baik yang dilakukan
di malam itu akan menghasilkan pahala yang berlipat ganda secara eksponensial. Dalam matematika, fungsi eksponensial adalah fungsi
yang menggambarkan pertumbuhan atau penurunan yang sangat cepat. Fungsi ini
memiliki bentuk umum f(x) = a^x, di mana a adalah konstanta positif dan x
adalah variabel. Dalam konteks Lailatul Qadar, kita dapat menganggap pahala
sebagai fungsi eksponensial dari amal yang dilakukan di malam itu.
Misalkan pahala satu
amal baik di malam biasa adalah 10. Di Lailatul Qadar, pahala tersebut mungkin
dilipatgandakan 1.000 kali atau lebih. Jika kita menganggap pahala sebagai
fungsi eksponensial, maka kita dapat menulisnya sebagai f(x) = 10^x, di mana x
adalah faktor pelipatgandaan. Dalam contoh ini, x bisa sangat besar, sehingga
menghasilkan nilai f(x) yang sangat besar pula.
Konsep Lailatul Qadar
sebagai fungsi eksponensial memiliki implikasi spiritual yang mendalam. Ini
menunjukkan betapa besar rahmat dan kemurahan Allah SWT kepada hamba-Nya.
Bahkan amal kecil yang dilakukan di malam Lailatul Qadar dapat menghasilkan
pahala yang sangat besar.
Matematika
Cinta dan Harapan
Lailatul Qadar, malam
yang lebih baik dari seribu bulan, bukan hanya tentang angka dan perhitungan
matematis. Lebih dari itu, malam ini adalah tentang cinta dan harapan, dua
kekuatan yang menggerakkan hati setiap Muslim.
Selain perhitungan matematis,
Lailatul Qadar juga mengandung unsur cinta dan harapan. Cinta kepada Allah SWT
mendorong kita untuk beribadah dengan ikhlas dan tulus, sedangkan
harapan akan ampunan serta rahmat-Nya
membuat kita tidak pernah putus asa dalam mencari Lailatul Qadar.
Cinta ini mendorong
kita untuk beribadah dengan ikhlas, menghabiskan malam-malam terakhir Ramadan
dalam doa dan zikir. Cinta ini pula yang membuat kita rela meninggalkan
kenyamanan tidur demi meraih ridha-Nya.
Selain cinta, harapan
juga memainkan peran penting dalam Lailatul Qadar. Harapan akan ampunan dosa,
harapan akan rahmat dan keberkahan, harapan akan kehidupan yang lebih baik di
dunia dan akhirat. Harapan inilah yang membuat kita tidak pernah putus asa
dalam mencari Lailatul Qadar, meskipun kita tidak tahu kapan malam itu tiba.
Lailatul Qadar adalah
malam yang penuh misteri dan keberkahan. Apakah kita perlu "berburu"
ataukah malam itu akan datang dengan sendirinya, yang terpenting adalah kita
senantiasa beribadah dan berbuat baik di setiap malam Ramadan. Semoga Allah SWT
memberikan kesempatan kepada kita untuk meraih keberkahan Lailatul Qadar.












