Senin, 22 Desember 2025

SMA Surya Buana Malang Perkuat Refleksi Pembelajaran dan Supervisi Guru

Malang, Senin 22 Desember 2025 - SMA Surya Buana Malang melaksanakan Workshop Hari Pertama sebagai upaya penguatan kualitas pembelajaran dan profesionalisme pendidik. Kegiatan ini berfokus pada implementasi refleksi pembelajaran berbasis Deep Learning serta evaluasi dan refleksi hasil supervisi pembelajaran, dan diikuti oleh guru SMA Surya Buana Malang serta peserta dari Sekolah Nailu Falah sebagai sekolah mitra.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. Fadillah Utami Prasetyaningtyas, S.Pd., M.Si., selaku Pengawas Sekolah Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota Malang. Dalam pemaparannya yang bertajuk Implementasi Refleksi Pembelajaran Berbasis Deep Learning, beliau menekankan pentingnya refleksi pembelajaran yang dilakukan secara mendalam dan berkelanjutan sebagai bagian dari peningkatan mutu pembelajaran.

Menurut Dr. Fadillah Utami, refleksi pembelajaran tidak hanya berfungsi untuk menilai capaian hasil belajar siswa, tetapi juga untuk memahami proses berpikir, keterlibatan, serta pengalaman belajar peserta didik secara menyeluruh.

“Refleksi pembelajaran berbasis deep learning membantu guru memahami proses belajar siswa secara lebih bermakna dan menjadi dasar perbaikan pembelajaran yang berkelanjutan,” jelasnya.

Materi kedua disampaikan oleh Drs. Tri Suharno, M.Pd., selaku Kepala Sekolah Defacto SMA Surya Buana Malang, dengan topik Evaluasi dan Refleksi Hasil Supervisi Pembelajaran. Dalam sesi ini, beliau menjelaskan bahwa supervisi pembelajaran merupakan bagian dari pembinaan profesional guru yang bertujuan meningkatkan mutu pembelajaran secara kolaboratif dan berkesinambungan.

“Hasil supervisi pembelajaran hendaknya dijadikan bahan refleksi bersama untuk menemukan solusi dan strategi pembelajaran yang lebih efektif, bukan sekadar sebagai penilaian administratif,” ungkapnya.

Seluruh rangkaian kegiatan workshop hari pertama ini dimoderatori oleh Fadhlur Rahman, M.Pd., yang mengarahkan jalannya diskusi secara interaktif dan komunikatif, sehingga peserta dari kedua sekolah dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan refleksi bersama.
Melalui kegiatan ini, SMA Surya Buana Malang bersama Sekolah Nailu Falah sebagai sekolah mitra berharap dapat memperkuat kolaborasi antarsekolah serta menumbuhkan budaya refleksi dan evaluasi pembelajaran yang berkelanjutan demi peningkatan mutu pendidikan.

Ketika Guru Diminta Ikhlas, Tapi Sistem Belum Sepenuhnya Adil

Dalam dunia pendidikan, kata ikhlas sering menjadi penenang sekaligus penutup diskusi. Ketika guru mengeluhkan beban kerja, kesejahteraan, atau ketidakpastian masa depan, jawaban yang sering terdengar adalah pengingat moral: “Guru harus ikhlas.”

Ikhlas adalah nilai luhur. Ia mencerminkan ketulusan dan pengabdian. Namun, persoalan muncul ketika ikhlas dijadikan pengganti kebijakan. Ikhlas adalah sikap batin individu, sedangkan kesejahteraan dan keadilan adalah tanggung jawab sistem.

Guru yang menyampaikan aspirasi sering kali dipersepsikan sebagai kurang bersyukur atau kurang ikhlas. Stigma ini membuat banyak guru memilih diam. Mereka takut dianggap tidak profesional atau tidak berdedikasi. Padahal, suara guru adalah data lapangan yang sangat penting bagi perbaikan pendidikan.

Pendidikan yang sehat membutuhkan dialog dua arah. Ketika guru tidak diberi ruang untuk menyampaikan kondisi riil, maka kebijakan berisiko jauh dari kenyataan. Sistem akhirnya berjalan di atas asumsi, bukan fakta.

Perlu dibedakan antara pengabdian dan pengabaian. Guru boleh berdedikasi, tetapi dedikasi tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan ketimpangan berlangsung terus-menerus. Guru boleh ikhlas, tetapi sistem tetap wajib adil.

Beban moral yang terlalu besar justru berbahaya. Ia bisa melahirkan kelelahan berkepanjangan, menurunkan kualitas pembelajaran, bahkan mematikan semangat profesi. Pendidikan tidak akan maju jika pendidiknya terus bekerja dalam tekanan yang tidak terlihat.

Menghargai guru tidak selalu berarti pujian. Kadang, bentuk penghargaan paling nyata adalah kebijakan yang berpihak dan sistem yang mendukung. Memberi ruang dialog, memperbaiki tata kelola, dan memastikan keseimbangan antara tuntutan dan dukungan adalah langkah penting.

Ikhlas seharusnya menjadi kekuatan batin guru, bukan tameng bagi sistem untuk menghindari evaluasi. Pendidikan yang berkelanjutan dibangun di atas kejujuran, keberanian mendengar, dan kesediaan memperbaiki.

Refleksi untuk kita semua:
Apakah selama ini kita terlalu cepat menilai ketulusan guru, tetapi terlalu lambat memperbaiki sistem yang membebaninya?

Baca Juga : 
Guru Disebut Ujung Tombak Pendidikan, Tapi Mengapa Terasa Dibiarkan Tumpul?
Generasi Emas Tidak Akan Lahir dari Guru yang Dibiarkan Berjuang Sendirian

Sabtu, 20 Desember 2025

Guru Disebut Ujung Tombak Pendidikan, Tapi Mengapa Terasa Dibiarkan Tumpul?

Guru selalu menjadi tokoh sentral dalam setiap pembicaraan tentang pendidikan. Dalam berbagai forum resmi, pidato kenegaraan, hingga dokumen kebijakan, guru kerap disebut sebagai ujung tombak pendidikan. Ungkapan ini menggambarkan betapa pentingnya peran guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun di balik istilah yang terdengar mulia itu, muncul pertanyaan mendasar yang jarang dibahas secara terbuka "apakah ujung tombak itu benar-benar dirawat oleh sistem yang menggunakannya?".


Dalam logika sederhana, sebuah tombak adalah alat. Ia memiliki pemilik, perawat, dan tujuan penggunaan. Tombak yang dibiarkan tanpa diasah akan kehilangan ketajamannya, bukan karena bahannya buruk, tetapi karena kurangnya perhatian. Analogi ini relevan ketika kita berbicara tentang guru dalam sistem pendidikan. Guru dituntut untuk selalu tajam, dalam ilmu, karakter, metode, dan keteladanan, namun sering kali dibiarkan mengasah dirinya sendiri.

Hari ini, guru tidak lagi hanya mengajar. Mereka juga dituntut menjadi fasilitator pembelajaran, pendamping emosional peserta didik, pengelola administrasi, sekaligus agen perubahan sosial. Kurikulum terus berkembang, teknologi semakin kompleks, dan karakter peserta didik semakin beragam. Semua itu menuntut kompetensi tinggi dan kesiapan mental yang tidak sederhana.

Namun, tuntutan besar itu tidak selalu berjalan seiring dengan dukungan yang memadai. Sebagian guru masih menghadapi persoalan kesejahteraan, beban kerja administratif yang berat, serta keterbatasan ruang untuk berkembang. Kondisi ini sering kali tidak terlihat di permukaan, tetapi sangat dirasakan dalam keseharian.

Ketika guru menyampaikan kegelisahan, respons yang muncul kerap normatif. Guru diingatkan tentang pengabdian, dedikasi, dan nilai keikhlasan. Nilai-nilai ini tentu penting dan menjadi ruh profesi guru. Namun, nilai moral tidak seharusnya digunakan untuk menutup mata terhadap persoalan struktural.

Menjadi guru bukan berarti menanggalkan kebutuhan hidup sebagai manusia. Guru memiliki keluarga, tanggung jawab sosial, dan kebutuhan masa depan. Mengharapkan kualitas pendidikan tinggi tanpa memastikan kondisi pendidiknya layak sama saja dengan membangun rumah megah di atas fondasi rapuh.

Jika guru adalah ujung tombak pendidikan, maka sistem pendidikan, baik lembaga maupun pemerintahan adalah pemilik tombak tersebut. Tanggung jawab pemilik bukan hanya menggunakan, tetapi juga merawat. Perawatan itu bisa berupa kebijakan yang adil, pelatihan berkelanjutan, serta perlindungan terhadap kesejahteraan dan martabat profesi.

Visi besar seperti Generasi Emas Indonesia membutuhkan fondasi yang kokoh. Fondasi itu tidak hanya berupa kurikulum dan infrastruktur, tetapi juga guru yang kuat secara profesional dan manusiawi. Tanpa perawatan yang memadai, ujung tombak pendidikan akan kehilangan daya dorongnya.

Tulisan ini bukan bentuk tudingan, melainkan ajakan refleksi. Pendidikan yang sehat tumbuh dari keberanian untuk melihat realitas apa adanya. Mengakui bahwa guru membutuhkan dukungan bukan berarti melemahkan sistem, justru memperkuatnya.

Pertanyaannya kini:
Apakah kita sudah cukup serius merawat mereka yang kita sebut sebagai ujung tombak pendidikan?

Baca Juga : 

Ketika Guru Diminta Ikhlas, Tapi Sistem Belum Sepenuhnya Adil
Generasi Emas Tidak Akan Lahir dari Guru yang Dibiarkan Berjuang Sendirian


Kamis, 18 Desember 2025

Generasi Emas Tidak Akan Lahir dari Guru yang Dibiarkan Berjuang Sendirian

Setiap bangsa memiliki mimpi besar tentang masa depannya. Indonesia menyebutnya Generasi Emas. Sebuah generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu bersaing di tingkat global. Namun, mimpi besar tidak akan terwujud tanpa fondasi yang kuat.

Fondasi itu adalah guru!

Tidak realistis berharap lahir generasi unggul jika pendidiknya hidup dalam ketidakpastian. Tidak adil menuntut kualitas pendidikan tinggi jika guru terus dibebani tuntutan tanpa dukungan yang seimbang. Generasi emas tidak lahir dari slogan, tetapi dari sistem yang konsisten merawat pendidiknya.

Guru yang merasa dihargai akan mengajar dengan kesadaran, bukan keterpaksaan. Guru yang sejahtera secara layak akan fokus pada peserta didik, bukan pada kecemasan hidup. Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kondisi psikologis dan profesional guru.

Kesejahteraan guru seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang. Setiap kebijakan yang memperkuat guru akan berdampak langsung pada kualitas sekolah dan lulusan. Pendidikan yang kuat tidak lahir dari tekanan, tetapi dari ekosistem yang sehat.

Memperlakukan guru secara manusiawi bukan berarti menurunkan standar. Justru sebaliknya, standar tinggi membutuhkan dukungan tinggi. Guru yang kuat akan melahirkan peserta didik yang tangguh.

Sudah saatnya kita menggeser sudut pandang. Bukan lagi bertanya, “Apakah guru sudah cukup ikhlas?” tetapi, “Apakah sistem sudah cukup adil?” Bukan lagi mempertanyakan keluhan, tetapi menjadikannya bahan evaluasi.

Generasi emas dimulai dari keputusan hari ini. Keputusan untuk mendengar guru, merawat profesinya, dan memperjuangkan sistem pendidikan yang lebih berimbang. Jika guru diperkuat, masa depan bangsa ikut dikuatkan.

Pertanyaan kini:
Jika generasi emas adalah cita-cita bersama, sudahkah kita menyiapkan fondasinya dengan sungguh-sungguh?

Baca Juga : 
Guru Disebut Ujung Tombak Pendidikan, Tapi Mengapa Terasa Dibiarkan Tumpul?
Generasi Emas Tidak Akan Lahir dari Guru yang Dibiarkan Berjuang Sendirian

Jumat, 28 November 2025

Berbagi Praktik Baik Pembelajaran Mendalam

Malang, 27 November 2025 - Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kota Malang–Batu menyelenggarakan kegiatan Berbagi Praktik Baik Pembelajaran Mendalam (PM) yang menghadirkan narasumber Dr. Ninik Kristiani, M.Pd., salah satu pengawas senior yang selama ini berperan aktif dalam mendampingi peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.

Dalam pemaparannya, Dr. Ninik menjelaskan bahwa implementasi Pembelajaran Mendalam telah diikuti oleh sejumlah sekolah dengan melibatkan pengawas, kepala sekolah, dan guru. Beliau menekankan bahwa beberapa materi yang dipelajari memiliki kesamaan antarperan, baik antara pengawas dan kepala sekolah maupun antara kepala sekolah dan guru, sehingga pemahaman terhadap PM harus dipandang sebagai tanggung jawab bersama.

Pada bagian inti kegiatan, peserta mengikuti sesi berbagi praktik baik yang berlangsung di SMA Negeri 5 Kota Malang. Dalam sesi tersebut, Dr. Ninik menyoroti bahwa keberhasilan pengimbasan PM memerlukan keterlibatan seluruh unsur pendidikan dari hulu hingga hilir. Pengawas memastikan arah kebijakan pembelajaran, kepala sekolah menjadi penggerak utama perubahan, dan guru sebagai pelaksana pembelajaran di kelas.


“PM bukan hanya tanggung jawab guru. Sekolah yang baik tidak diukur dari satu komponen saja, melainkan dari kepemimpinan kepala sekolah yang mampu mengendalikan arah pembelajaran sekaligus mendorong guru-guru untuk bergerak cepat menuju transformasi,” ujar Dr. Ninik.

Beliau juga mengingatkan pentingnya memastikan bahwa peserta didik memiliki bekal awal yang memadai sebelum mengikuti proses Pembelajaran Mendalam. Tanpa kesiapan tersebut, strategi yang diterapkan belum bisa mencapai hasil yang optimal.

Kegiatan berbagi praktik baik ini diharapkan menjadi momentum penguatan sinergi antara pengawas, kepala sekolah, dan guru, sehingga Pembelajaran Mendalam dapat diterapkan secara utuh, konsisten, dan berdampak nyata bagi perkembangan peserta didik.

Bahan Pembelajaran Mendalam silkan klik disini



Selasa, 25 November 2025

SMA Surya Buana Malang Laksanakan Asesmen Sumatif Akhir Semester Ganjil sebagai Wujud Komitmen Mutu Pendidikan Tahun Ajaran 2025/2026

SMA Surya Buana Malang kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan berkualitas melalui pelaksanaan Asesmen Sumatif Akhir Semester (SAS) Ganjil Tahun Ajaran 2025/2026 yang berlangsung mulai 24 November hingga 5 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi salah satu indikator utama penjaminan mutu belajar peserta didik selama satu semester.

Pelaksanaan SAS dilakukan secara Computer Based Test (CBT) di laboratorium komputer dengan sistem yang tertata rapi, perangkat yang terstandar, serta pengawasan profesional. Seluruh peserta didik terlihat antusias dan fokus mengerjakan soal, mencerminkan budaya belajar yang serius, disiplin, dan bertanggung jawab, nilai yang selama ini ditanamkan SMA Surya Buana.

Kepala sekolah, menjelaskan bahwa asesmen sumatif merupakan bagian dari strategi sekolah dalam mengukur capaian kompetensi sekaligus memetakan kekuatan akademik peserta didik.
“ Asesmen ini tidak sekadar evaluasi akhir, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan karakter jujur, mandiri, dan siap menghadapi tantangan akademik di masa depan. Melalui proses ini, kami ingin memastikan kualitas pembelajaran benar-benar berdampak pada perkembangan peserta didik,” ungkapnya.

Suasana pelaksanaan asesmen berjalan kondusif. Tim teknis sekolah menyiapkan seluruh infrastruktur dengan optimal sehingga kegiatan dapat berlangsung tanpa kendala berarti. Lingkungan ruang ujian yang tertib dan terarah menjadi bukti nyata penerapan nilai Religious, Caring, Disciplined yang menjadi identitas SMA Surya Buana.

Dengan terselenggaranya SAS Ganjil ini, SMA Surya Buana menegaskan posisinya sebagai sekolah yang terus berinovasi dalam sistem evaluasi, mengutamakan integritas, serta berorientasi pada pengalaman belajar yang bermutu bagi seluruh peserta didik.