Sekolah idealnya menjadi ruang aman bagi tumbuhnya pengetahuan, karakter, dan kemanusiaan. Namun, berbagai peristiwa konflik dan kekerasan yang mencuat di dunia pendidikan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa relasi pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan yang melibatkan guru, murid, dan wali murid kian sering terjadi dan memperlihatkan persoalan yang lebih dalam daripada sekadar pelanggaran tata tertib atau kesalahan prosedural.
Persoalan tersebut tidak dapat disederhanakan dengan menunjuk satu pihak sebagai penyebab utama. Pendidikan adalah ekosistem yang melibatkan banyak aktor, sehingga setiap masalah yang muncul merupakan cerminan dari tanggung jawab kolektif yang belum dijalankan secara utuh. Dalam konteks ini, melemahnya moral sensitivity patut menjadi perhatian serius.
Moral sensitivity merupakan kemampuan seseorang untuk menyadari dimensi moral dari setiap tindakan yang diambil, termasuk dampaknya terhadap orang lain. Kepekaan ini membuat individu mampu menempatkan diri secara etis, menahan emosi, serta mempertimbangkan martabat manusia dalam setiap keputusan. Ketika moral sensitivity melemah, relasi pendidikan mudah bergeser menjadi relasi yang kering empati dan rawan konflik.
Sekolah sering kali menjadi ruang tempat berbagai persoalan bermuara, padahal pendidikan tidak dimulai di sekolah. Pendidikan yang paling mendasar justru berlangsung di lingkungan keluarga. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak untuk belajar empati, pengendalian emosi, penghormatan terhadap orang lain, serta cara menyelesaikan perbedaan secara dewasa. Jika nilai-nilai ini tidak tertanam kuat sejak awal, sekolah akan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat.
Di sisi lain, sekolah tetap memiliki peran strategis dalam membangun iklim pendidikan yang beretika. Guru dituntut tidak hanya menguasai materi dan metode pembelajaran, tetapi juga memiliki kepekaan moral dalam menjalankan otoritasnya. Disiplin yang diterapkan tanpa empati berisiko kehilangan makna pendidikan dan justru melahirkan relasi yang tidak sehat. Sebaliknya, murid juga perlu dibimbing agar memahami batasan, menghormati proses pendidikan, serta menyadari konsekuensi moral dari setiap tindakan.
Peran wali murid tidak kalah penting. Komunikasi yang terbuka dan sikap yang mengedepankan dialog menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan terhadap lembaga pendidikan. Ketika persoalan disikapi dengan emosi berlebihan, nilai-nilai pendidikan justru tereduksi, dan anak-anak memperoleh contoh yang kurang mendidik dalam menyelesaikan konflik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui kurikulum formal atau slogan normatif. Moral sensitivity tidak tumbuh dari ceramah semata, melainkan dari keteladanan yang konsisten di rumah, di sekolah, dan di ruang sosial yang lebih luas. Pendidikan membutuhkan keselarasan nilai antarsemua pihak agar tujuan memanusiakan manusia benar-benar terwujud.
Jika dunia pendidikan terus diwarnai konflik dan kekerasan, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya aturan atau sanksi, melainkan juga fondasi etiknya. Sudah saatnya moral sensitivity ditempatkan sebagai ruh pendidikan, bukan sekadar pelengkap. Dengan kesadaran bersama, pendidikan dapat kembali pada hakikatnya sebagai ruang aman, bermartabat, dan berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya.

0 comments: