Rabu, 22 Oktober 2025
Sabtu, 24 Mei 2025
SENTUHAN HATI DI LAYAR SENTUH
Di era digital yang serba cepat ini, layar sentuh telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, tak terkecuali bagi anak-anak. Mereka lahir dan tumbuh besar di tengah gempuran informasi, hiburan, dan interaksi virtual. Sebagai orang tua, kita dihadapkan pada tantangan unik: bagaimana menavigasi dunia digital ini sambil tetap menanamkan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan koneksi emosional yang mendalam pada anak-anak kita? Judul "Sentuhan Hati di Layar Sentuh" bukan sekadar metafora, melainkan sebuah pengingat bahwa di balik dinginnya teknologi, sentuhan kasih sayang orang tua tetaplah esensi utama dalam mendidik generasi digital ini.
Jangan salah paham, teknologi bukanlah musuh. Ia menawarkan segudang manfaat, mulai dari akses tak terbatas ke informasi dan pembelajaran, hingga kemudahan berkomunikasi dan berkreasi. Namun, tanpa bimbingan yang tepat, paparan berlebihan pada dunia digital juga menyimpan potensi risiko, seperti kecanduan, kurangnya interaksi sosial nyata, hingga terpaparnya konten yang tidak sesuai. Di sinilah peran krusial orang tua untuk menghadirkan "sentuhan hati" dalam interaksi anak dengan layar sentuh.Salah satu langkah awal adalah dengan menjadi
teladan yang baik. Anak-anak adalah peniru ulung. Jika orang tua terlalu
sering terpaku pada layar ponsel atau gawai, sulit rasanya mengharapkan anak
untuk memiliki kebiasaan digital yang sehat. Cobalah untuk menetapkan
"zona bebas gawai" di rumah, terutama saat makan bersama atau
berinteraksi sebagai keluarga. Tunjukkan pada anak bahwa ada saat-saat di mana
interaksi tatap muka dan perhatian penuh jauh lebih berharga daripada
notifikasi yang berkedip.
Komunikasi terbuka adalah kunci lainnya. Alih-alih
melarang secara membabi buta, ajaklah anak berdiskusi tentang apa yang mereka
lakukan di dunia digital. Tanyakan tentang game yang mereka mainkan, video yang
mereka tonton, atau teman-teman online mereka. Dengan menunjukkan minat dan rasa
ingin tahu, Anda membuka pintu bagi anak untuk merasa nyaman berbagi pengalaman
digital mereka, termasuk potensi masalah yang mungkin mereka hadapi seperti cyberbullying
atau konten yang tidak pantas.
Menemani dan terlibat dalam aktivitas digital anak juga
merupakan wujud kasih sayang. Cobalah sesekali bermain game bersama mereka,
menonton video edukatif, atau bahkan belajar coding bersama. Keterlibatan aktif
orang tua tidak hanya mempererat ikatan emosional, tetapi juga memberikan
kesempatan untuk memberikan panduan dan nilai-nilai positif secara langsung.
Anda bisa menyelipkan diskusi tentang pentingnya menghormati orang lain secara
online, berhati-hati dalam berbagi informasi pribadi, dan membedakan antara
fakta dan opini.
Menetapkan batasan yang jelas dan konsisten adalah
bentuk kasih sayang yang terukur. Anak-anak membutuhkan struktur dan panduan,
termasuk dalam penggunaan teknologi. Tentukan waktu yang wajar untuk bermain
gawai, area di mana gawai tidak diperbolehkan (misalnya kamar tidur menjelang
tidur), dan konsekuensi yang jelas jika aturan dilanggar. Batasan ini bukan
untuk mengekang, tetapi untuk melindungi mereka dari dampak negatif penggunaan
teknologi berlebihan dan membantu mereka mengembangkan kebiasaan digital yang
sehat.
Mendorong aktivitas di dunia nyata adalah cara
penting untuk menyeimbangkan kehidupan digital anak. Ajak mereka bermain di
luar rumah, berolahraga, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, atau sekadar
menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga. Pengalaman nyata dan interaksi
sosial langsung sangat penting untuk perkembangan fisik, emosional, dan sosial
mereka. Tunjukkan bahwa dunia di luar layar sentuh juga menawarkan keseruan dan
kebahagiaan yang tak kalah menarik.
Lebih dari sekadar aturan dan batasan, menunjukkan
empati dan pengertian terhadap dunia digital anak juga penting. Akui bahwa
bagi mereka, dunia digital adalah bagian dari realitas mereka. Cobalah untuk
memahami mengapa mereka begitu tertarik dengan game tertentu atau platform media
sosial. Dengan menunjukkan empati, Anda membangun jembatan komunikasi yang
lebih kuat dan membuat anak merasa didengarkan dan dihargai.
Jumat, 18 April 2025
Petua Kehidupan
Malang 18 April 2025, Sebuah pertemuan santai penuh makna, Abah Sukri sosok sepuh yang dikenal bijak dan bersahaja di tengah guru/karyawan muda, menyampaikan sejumlah petuah kehidupan yang relevan dan menyentuh, khususnya bagi generasi muda. Dengan khasnya yang sederhana namun dalam makna, Abah mengingatkan pentingnya merenungi perjalanan hidup di dunia ini.
"Seberapa jauh atau banyak kalian berjalan di dunia ini untuk kehidupan?" tanya Abah pelan namun mengena. "Semakin jauh langkahmu, semakin banyak pula pelajaran yang bisa kau ambil dari perjalananmu. Pelajaran itu jangan hanya disimpan, tapi gunakanlah untuk belajar hidup di tengah masyarakat," lanjutnya.
Abah juga mengingatkan tentang pentingnya silaturahim. Mengutip sabda Rasulullah SAW, Abah berkata, "Jika kamu ingin panjang umur dan hidupmu penuh keberkahan, gunakanlah sebagian waktumu untuk menjaga silaturahim." Menurutnya, hidup ini bukan sekadar tentang mengejar dunia, tapi juga tentang merawat hubungan antar manusia.
Dalam konteks pendidikan, Abah mengangkat kembali posisi penting seorang guru. "Guru itu jujukan pitakon," katanya. “Kalau tidak tahu, ya takonono gurumu kae, sebab gurumu itu tempat bertanya, tempat mencari arah.” Beliau menekankan bahwa guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga penuntun dalam mencari makna dan kebenaran.
Tak lupa, Abah juga memberi wejangan untuk para pasangan muda dalam berumah tangga. Beliau berpesan agar suami dan istri tidak saling menyalahkan. “Dalam rumah tangga, jangan saling tunjuk kesalahan. Jangan juga berlebihan dalam segala hal. Sederhana itu menenangkan,” ujarnya dengan senyum teduh.
Petuah Abah Sukri ini menjadi pengingat bahwa dalam menjalani hidup, baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun dalam keluarga, kebijaksanaan adalah kompas utama. Nilai-nilai luhur seperti silaturahmi, penghormatan pada guru, dan kesederhanaan dalam rumah tangga adalah bekal yang tak lekang oleh zaman.
#nasihat hidup #motivasi kehidupan
Minggu, 13 April 2025
Apa arti kode di info GTK, mari pahami bersama bapak/ibu
Dalam proses verifikasi dan validasi data guru, Info GTK menjadi salah satu acuan penting yang sering digunakan oleh para pendidik dan tenaga kependidikan. Namun, tak jarang muncul kebingungan terkait berbagai kode atau keterangan yang tercantum di dalamnya. Apa sebenarnya arti dari kode-kode di Info GTK? Mari kita pahami bersama, Bapak/Ibu, agar tidak terjadi kesalahpahaman dan setiap informasi yang tersaji dapat dimaknai dengan benar.
1. Kode 08 artinya SKTP sudah terbit dan statusnya Valid untuk mendapatkan pencairan TPG
2. Kode 07 artinya menunggu penerbitan SKTP, namun status nya valid sehingga bisa mendapatkan TPG
3. Kode 16 artinya menunggu pengusulan oleh operator simtun, namun statusnya sudah valid untuk mendapatkan TPG
4. Kode 01 artinya beban mengajar tidak terdeteksi atau mengajar tidak linier dengan sertifikat pendidik
5. Kode 02 artinya beban mengajar tidak memenuhi syarat untuk TPG
6. Kode 04 artinya tidak memenuhi syarat TPG
7. Kode 06 artinya Guru sertifikasi tercatat tidak aktif atau induk bukan dibawah naungan Kemdikbud
8. Kode 17 artinya guru sertifikasi tidak aktif permanen
9. Kode 19 artinya guru mengajar sertifikasi nya tidak valid dengan sertifikat pendidik
10. Kode 99 artinya guru sertifikasi di luar naungan Kemdikbud
11. Kode 13 artinya sedang proses validasi (pengusulan SKTP menunggu validasi rekening)
https://info.gtk.dikdasmen.go.id/
#pencairan tpg #ppg
Sabtu, 12 April 2025
Tunjangan Sertifikasi Guru Belum Cair? Cek Disini
Para guru bersertifikat di seluruh Indonesia saat ini tengah menantikan pencairan Tunjangan Sertifikasi Guru (TSG). Meski hingga kini belum diterima oleh sebagian guru, pihak terkait menegaskan bahwa proses pencairan masih berjalan dan dana akan tetap disalurkan sesuai prosedur.
Penundaan ini umumnya disebabkan oleh proses verifikasi dan validasi data penerima yang harus dilakukan dengan cermat. Langkah tersebut penting agar tunjangan benar-benar diberikan kepada guru yang memenuhi syarat dan sesuai dengan data yang telah terverifikasi. Proses administrasi membutuhkan waktu agar tidak terjadi kesalahan dalam penyaluran. Semua pihak diharapkan bersabar dan tidak terpancing informasi yang belum jelas sumbernya.
Tunjangan sertifikasi merupakan bentuk penghargaan atas kompetensi dan profesionalisme guru dalam menjalankan tugasnya. Dana ini tentunya sangat dinanti, terutama dalam mendukung kesejahteraan dan semangat mengajar.
Namun demikian, semangat mendidik generasi bangsa tetap harus diutamakan. Guru diminta untuk tetap fokus pada tugas dan tanggung jawabnya di kelas, sembari menunggu proses pencairan yang sedang berlangsung.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan guru:
- Pastikan data di sistem pendataan sudah lengkap dan benar.
- Selalu berkoordinasi dengan pihak sekolah atau operator data.
- Ikuti perkembangan informasi resmi dari lembaga terkait.
GENERASI EMAS ATAU CEMAS
Gaung "Generasi Emas 2045" terus bergema, membawa serta mimpi akan Indonesia yang maju, sejahtera, dan berdaya saing global. Bonus demografi yang diprediksi mencapai puncaknya pada tahun tersebut menghadirkan harapan besar akan hadirnya angkatan muda produktif yang akan menjadi motor penggerak kemajuan bangsa. Namun, di balik optimisme itu, tersembunyi pula kecemasan mendalam. Akankah generasi muda ini benar-benar menjadi aset emas, atau justru terjerat dalam pusaran tantangan zaman dan menjelma menjadi "generasi cemas"?
Harapan akan Generasi Emas bertumpu pada potensi besar yang dimiliki oleh kaum muda saat ini. Mereka tumbuh di era digital, memiliki akses tak terbatas pada informasi dan teknologi, serta terpapar pada beragam ide dan budaya. Semangat inovasi, kreativitas, dan adaptabilitas menjadi modal berharga untuk menghadapi kompleksitas dunia modern. Pendidikan yang semakin merata, meskipun belum sempurna, juga memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya.
Namun, bayang-bayang kecemasan tak bisa diabaikan. Globalisasi yang membuka peluang juga menghadirkan persaingan yang semakin ketat. Lapangan pekerjaan yang tersedia belum tentu sebanding dengan jumlah lulusan, memicu kekhawatiran akan pengangguran terselubung dan kualitas pekerjaan yang tidak sesuai harapan. Selain itu, isu-isu krusial seperti perubahan iklim, ketidakstabilan ekonomi global, dan potensi disrupsi teknologi menjadi tantangan nyata yang dapat menghambat kemajuan generasi muda.
Kesehatan mental juga menjadi perhatian serius. Tekanan untuk sukses, persaingan di media sosial, dan ketidakpastian masa depan dapat memicu stres, kecemasan, dan depresi di kalangan generasi muda. Jika isu ini tidak ditangani dengan baik, potensi emas yang dimiliki bisa tergerus oleh masalah psikologis yang menghambat produktivitas dan kreativitas.
Lebih jauh lagi, tantangan karakter dan nilai juga menjadi sorotan. Era digital dengan segala kemudahannya juga membawa risiko terhadap degradasi moral dan etika. Paparan informasi yang tidak tersaring, budaya instan, dan individualisme yang berlebihan dapat mengikis nilai-nilai luhur bangsa seperti gotong royong, toleransi, dan nasionalisme.
Lantas, bagaimana agar harapan akan Generasi Emas tidak pupus dan berubah menjadi kenyataan Generasi Cemas? Jawabannya terletak pada sinergi dan kolaborasi dari berbagai pihak. Pemerintah memiliki peran sentral dalam menciptakan kebijakan yang mendukung pengembangan potensi generasi muda, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri, menciptakan lapangan kerja yang layak, hingga memberikan dukungan psikologis dan sosial.
Sektor swasta juga memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan peluang kerja yang berkualitas dan berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia muda. Pendidikan di keluarga dan masyarakat juga tidak kalah penting dalam menanamkan nilai-nilai karakter yang kuat, menumbuhkan semangat kewirausahaan, dan meningkatkan kesadaran akan isu-isu global.
Generasi muda itu sendiri juga harus proaktif dalam mengembangkan diri, meningkatkan keterampilan, berpikir kritis, dan memiliki daya juang yang tinggi. Mereka harus mampu memanfaatkan peluang yang ada, beradaptasi dengan perubahan, dan tidak mudah menyerah pada tantangan. Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan kemampuan untuk mengelola stres juga menjadi kunci penting.
Masa depan Indonesia ada di tangan generasi mudanya. Pilihan ada di persimpangan jalan: menjadi Generasi Emas yang mampu membawa bangsa menuju kemajuan gemilang, atau terperangkap dalam kecemasan dan ketidakberdayaan. Dengan kerja keras, kolaborasi, dan komitmen yang kuat dari semua pihak, mimpi akan Generasi Emas 2045 bukanlah sekadar utopia, melainkan sebuah keniscayaan yang dapat diwujudkan. Namun, kelalaian dan ketidakpedulian hanya akan menjerumuskan kita pada skenario yang paling dihindari: lahirnya sebuah Generasi Cemas yang kehilangan arah dan potensi. Mari bergandengan tangan, mewujudkan harapan, dan menepis segala kecemasan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
#generasiemas #generasi #cemas #anakmudasekarang
Senin, 31 Maret 2025
Pesan untuk Anakku, Ziarah Kubur Sebagai Ajang Intropeksi Diri
Wahai anakku ziarah kubur dilakukan umat Islam untuk mendoakan keluarga dan kerabat yang telah meninggal dunia. Selain sebagai bentuk penghormatan, ziarah kubur juga menjadi pengingat bagi yang masih hidup akan kepastian kematian dan kehidupan setelahnya.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, "Dahulu aku melarang kalian untuk ziarah kubur, tetapi sekarang berziarahlah, karena itu dapat mengingatkan kalian kepada akhirat." (HR. Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa berziarah bukan tradisi, tetapi memiliki nilai untuk intropeksi diri.
Saat berziarah, umat Islam dianjurkan untuk membaca doa bagi penghuni kubur, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW:
Lebih dari sekadar berdoa, ziarah kubur juga menjadi sarana introspeksi diri. Melihat tanah pemakaman yang sunyi mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia hanya sementara. Seperti dalam firman Allah dalam QS. Al-Mulk ayat 2, "Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji siapa di antara kalian yang terbaik amalnya."
Namun, dalam melakukan ziarah, umat Islam diingatkan untuk tetap menjaga adab. Tidak diperbolehkan meratap secara berlebihan, menginjak atau duduk di atas kuburan, serta melakukan perbuatan yang mengarah pada kesyirikan, seperti meminta sesuatu kepada orang yang telah meninggal.
Dengan memahami makna dan pesan dari ziarah kubur, diharapkan umat Islam dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan amal kebaikan, serta terus mendoakan mereka yang telah berpulang ke rahmatullah.
#hukum ziarah kubur raya pertama
Shalat Idul Fitri 1446 H di RTH Maron Genteng Sebagai Momentum Syukur dan Peningkatan Taqwa
Genteng, 1 Syawal 1446 H - Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Genteng sukses menyelenggarakan Shalat Idul Fitri 1446 H di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Maron, Genteng. Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan jamaah yang datang dari berbagai daerah sekitar, dengan penuh khidmat dan kebersamaan dalam merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.
Shalat Idul Fitri kali ini dipimpin oleh imam sekaligus khatib dari Muhammadiyah, yang dalam khutbahnya mengingatkan pentingnya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT serta menjaga persaudaraan dan solidaritas antar sesama. Dalam khutbahnya, beliau menyampaikan bahwa Idul Fitri bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga momentum untuk memperkuat nilai-nilai keislaman dan merefleksikan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Suasana kebersamaan tampak kental dalam pelaksanaan shalat ini. Setelah shalat dan khutbah selesai, jamaah saling bersalaman dan bermaafan sebagai simbol kembali ke fitrah. Acara ini juga menjadi ajang silaturahmi bagi masyarakat sekitar yang datang bersama keluarga dan kerabat.
Pelaksanaan Shalat Idul Fitri di RTH Maron yang berlangsung, sebagai bentuk syiar Islam dan peningkatan kebersamaan umat. Dengan semangat Idul Fitri, semoga seluruh jamaah dapat terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta menjadikan momen ini sebagai langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik di bawah ridha Allah SWT.
MALAM TAKBIRAN & RIUH SWALAYAN
![]() |
| Ahmad Fajarisma Budi Adam Guru SMP N 1 Banjar Seririt Bali |
Minggu, 30 Maret 2025
Janji Pasca Ramadhan
Rasanya baru kemarin kita kehadiran tamu mulia ini, sebentar akan meninggalkan kita semua, Apakah tahun depan akan bertemu Kembali, kita hanya berharap dan Allah SWT lah yang berkehendak atas semuanya. Ramadhan telah berlalu, meninggalkan kita dengan kenangan indah dan semangat spiritual yang membara. Selama sebulan penuh, kita telah berjuang melawan hawa nafsu, meningkatkan ibadah, dan mempererat tali silaturahmi. Kini, setelah Ramadhan pergi, muncul pertanyaan penting: Apakah semangat dan kebaikan yang kita tanam selama bulan suci akan terus bersemi, ataukah akan layu seiring berjalannya waktu ?
Inilah saatnya kita membuktikan
komitmen kita. Janji pasca Ramadhan adalah janji untuk menjaga dan meningkatkan
kualitas diri yang telah kita capai selama bulan suci. Ini bukan tugas yang
mudah, tetapi dengan tekad dan upaya yang sungguh-sungguh, kita bisa
mewujudkannya.
Menjaga Konsistensi Ibadah
Salah satu janji terpenting pasca
Ramadhan adalah menjaga konsistensi ibadah. Selama Ramadhan, kita terbiasa
dengan shalat tarawih, tadarus Al-Qur'an, dan berbagai amalan sunnah lainnya.
Jangan biarkan kebiasaan baik ini hilang begitu saja. Tetaplah shalat tepat
waktu, luangkan waktu untuk membaca Al-Qur'an setiap hari, dan perbanyaklah
dzikir serta doa.
Rasulullah SAW bersabda,
"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin, meskipun
sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengingatkan kita bahwa kualitas
ibadah lebih penting daripada kuantitas. Ibadah yang dilakukan secara rutin,
meskipun sedikit, lebih dicintai oleh Allah daripada ibadah yang banyak tetapi
hanya dilakukan sesekali.
Istiqomah adalah jalan terbaik
agar kita senantiasa menjalankan janji usai Ramadhan berlalu, dengan tetap
rajin sholat tepat waktu, tadarus Al-Qur’an, bersedekah, menjaga silaturrahmi,
dan meningkatkan amalan sunnah lainnya.
Meningkatkan Kualitas Diri
Ramadhan adalah bulan pelatihan
diri. Selama sebulan penuh, kita belajar untuk menahan diri dari segala bentuk
keburukan, baik perkataan maupun perbuatan. Janji pasca Ramadhan adalah janji
untuk terus meningkatkan kualitas diri, menjadi pribadi yang lebih sabar,
jujur, dan penyayang.
Salah satu cara untuk meningkatkan
kualitas diri adalah dengan terus belajar. Bacalah buku-buku agama, ikuti
kajian-kajian Islam, dan bergaul dengan orang-orang saleh. Dengan demikian,
kita akan terus mendapatkan ilmu dan motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih
baik.
Mempererat Silaturahmi
Ramadhan adalah bulan silaturahmi.
Kita terbiasa mengunjungi keluarga, teman, dan tetangga untuk mempererat tali
persaudaraan. Janji pasca Ramadhan adalah janji untuk terus menjaga dan
mempererat silaturahmi. Jangan biarkan kesibukan dunia membuat kita melupakan
orang-orang terdekat.
Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa yang ingin rezekinya diluaskan dan umurnya dipanjangkan, maka
hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis
ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga silaturahmi dalam Islam.
Menjadi Pribadi yang Bermanfaat
Ramadhan adalah bulan kepedulian
sosial. Kita terbiasa bersedekah, memberi makan orang miskin, dan membantu
sesama yang membutuhkan. Janji pasca Ramadhan adalah janji untuk terus menjadi
pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Jangan biarkan semangat berbagi dan
peduli luntur setelah Ramadhan berakhir.
Salah satu cara untuk menjadi
pribadi yang bermanfaat adalah dengan menjadi relawan di organisasi sosial.
Kita juga bisa membantu tetangga yang membutuhkan, atau sekadar memberikan
senyuman dan kata-kata yang baik kepada orang-orang di sekitar kita.
Menjaga Semangat Ramadhan
Janji pasca Ramadhan adalah janji
untuk menjaga semangat Ramadhan tetap menyala di hati kita. Semangat untuk
terus beribadah, berbuat baik, dan meningkatkan kualitas diri. Jangan biarkan
semangat ini padam seiring berjalannya waktu.
Salah satu cara untuk menjaga
semangat Ramadhan adalah dengan mengingat kembali kenangan indah selama bulan
suci. Ingatlah saat-saat ketika kita merasa dekat dengan Allah, saat-saat
ketika kita merasa damai dan bahagia. Kenangan ini akan menjadi motivasi bagi
kita untuk terus berbuat baik.
Janji pasca Ramadhan adalah janji
kepada diri sendiri, kepada keluarga, kepada masyarakat, dan yang paling
penting, kepada Allah SWT. Mari kita buktikan bahwa kita mampu menjaga dan
meningkatkan kualitas diri yang telah kita capai selama Ramadhan. Semoga Allah
SWT memberikan kita kekuatan dan keistiqomahan untuk mewujudkan janji-janji
kita. Amin.








