Kamis, 08 Januari 2026

Memaknai Waktu Kemarin untuk Taubat, Hari Ini untuk Amal, Besok untuk Pertanggungjawaban

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering merasa kehabisan waktu. Ironisnya, bukan karena waktu yang kurang, melainkan karena cara memaknainya yang keliru. Banyak orang hidup dengan beban masa lalu, cemas terhadap masa depan, namun lalai mengoptimalkan hari ini.


Islam sejak awal telah memberikan kerangka sederhana namun mendalam tentang waktu. Kehidupan manusia sejatinya hanya bergerak dalam tiga dimensi waktu: kemarin, hari ini, dan besok. Ketiganya bukan sekadar urutan kronologis, melainkan tahapan spiritual yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah ﷻ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan.”
(HR. Tirmidzi, hasan sahih)

Hadits ini menegaskan bahwa waktu bukan netral; ia bernilai pahala atau dosa.

Kemarin Antara Penyesalan dan Kesempatan Taubat

Banyak manusia terjebak pada masa lalu. Penyesalan, kegagalan, dosa, dan luka hidup sering kali dibawa terus hingga hari ini. Padahal, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hidup dalam kungkungan kemarin.

Allah ﷻ berfirman:

“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”

Ayat ini menjadi fondasi penting bahwa masa lalu seburuk apa pun tidak menutup pintu harapan. Dalam konteks remaja, kemarin bisa berarti kelalaian ibadah dan salah pergaulan. Bagi pekerja, kemarin adalah kegagalan karier atau keputusan yang keliru. Bagi trader dan investor, kemarin mungkin berisi kerugian dan emosi yang tidak terkendali. Sementara bagi pejuang keluarga, kemarin adalah hari-hari berat yang belum berbuah hasil.

Islam memandang kemarin sebagai ruang taubat dan muhasabah, bukan ruang keputusasaan. Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan:

“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.”

Dengan taubat yang sungguh-sungguh, masa lalu tidak lagi menjadi beban, melainkan pelajaran.

Satu-satunya Waktu yang Nyata Hari Ini

Jika kemarin telah berlalu dan besok belum tentu datang, maka hari ini adalah satu-satunya waktu yang benar-benar dimiliki manusia. Karena itu, Islam sangat menekankan pemanfaatan waktu sekarang.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum sibukmu…”
(HR. Al-Hakim, sahih)

Hari ini adalah ladang amal. Bagi pelajar, belajar dengan sungguh-sungguh adalah ibadah. Bagi pekerja, bekerja dengan jujur dan amanah adalah bentuk ketaatan. Bagi pelaku usaha, trader, dan investor, disiplin, kesabaran, serta menghindari keserakahan adalah nilai moral yang sejalan dengan ajaran Islam. Bagi kepala keluarga, mencari nafkah halal adalah jihad yang sering luput dari sorotan.

Allah ﷻ berfirman:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada amal yang sia-sia, sekecil apa pun, selama dilakukan dengan niat yang benar.

Masa Depan yang Akan Dihisab

Berbeda dengan pandangan sekuler yang melihat masa depan hanya dari sisi dunia, Islam memandang besok sebagai dua hal sekaligus: harapan dan pertanggungjawaban.

Allah ﷻ berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

Ayat ini menegaskan bahwa orientasi hidup seorang Muslim tidak berhenti pada pencapaian duniawi. Kesuksesan sejati bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang proses yang halal, niat yang lurus, dan amal yang istiqamah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus walaupun sedikit.”

Dengan demikian, besok bukan tentang keajaiban instan, melainkan akumulasi dari kebiasaan baik hari ini.

Mengapa Banyak Orang Kehilangan Arah

Fenomena kelelahan mental, kecemasan masa depan, dan krisis makna hidup yang dialami banyak orang hari ini salah satunya disebabkan oleh hilangnya perspektif waktu yang benar. Terlalu menyesali kemarin, terlalu mencemaskan besok, hingga lupa menghidupkan hari ini.

Islam menawarkan keseimbangan yang menenangkan:
memaafkan diri atas masa lalu, bekerja sungguh-sungguh di masa kini, dan menyerahkan hasil kepada Allah untuk masa depan.

Menghidupkan Hari Ini Sebelum Menjadi Kemarin
Kehidupan akan terus berjalan, apakah kita siap atau tidak. Setiap hari yang berlalu tidak akan kembali, dan setiap hari yang datang membawa amanah baru.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Jika engkau berada di sore hari, jangan menunggu pagi. Jika engkau berada di pagi hari, jangan menunggu sore.”
(HR. Bukhari)

Selama hari ini masih Allah berikan, maka kesempatan memperbaiki diri masih terbuka. Kemarin cukup untuk taubat, hari ini untuk amal, dan besok untuk berharap rahmat Allah.

Previous Post
Next Post

0 comments: